Nama lengkapnya Umair bin Sa'ad Ubayd Al-Ausi Al-Anshari.Ayahnya adalah Sa'ad Al-Qari (pengafal Al-Qur'an)yang tidak pernah absen mengikut peperangan bersama Nabi.
Ayahnya gugur sebagai pahlawan syahid dalam perang Al-Qadisiyah.
Ia menemani ayahnya untuk membai'at Nabi dan mengikrarkan diri masuk islam di hadapan beliau.
Ia adalah sosok yang terkenal wira'i ,takwa,dan selau berada di garda depan dalam megerjakan shalat, dalam pertempuran jihad,dan dalam meraih pahala dan kesyahidan.
Suatu hari ia mendengar Jallas bin Suwaid Ash-Shamit mengatakan tentang Nabi,"Kalau oarang ini berkata jujur, maka kita akan menjadi lebih buruk dari keledai. Jallas masuk islam adalah karena didorong rasa takut.
Umair lalu mengigatkannya dan menyarankannya untuk segera bertobat,tapi Jallas tidak mengindahkan. Umair megadukan Jallas kepada Nabi.Beliau pun memenggil Jallas, tapi ia bersumpah tidak mengataka sesuatu yang jelek tentang Nabi, laluturunlah firman allah,"mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama)Allah, bahwa mereka tidak mengatakan(sesuatu yang menyakitimu). sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran ,dan telah menjadi kafir susudah islam,dan mengigini apa yang mereka tidak mencapainya......."(At-Taubah:74).
Pada akhirnya Jallas mengakui kesalahanya ,menyesal,dan bertobat kepada Allah. kemudian Rasullah memegang teling Umair sembari berkata ,"Hai anak muda,telingamu telah menunaikan janjinya (fungsinya) dan tuhanmu telah membenarkan ucapanmu."
Ia ikut dalam perang untuk membebaskan wilayah syam. Para sahabat memanggilnya dengan panggilan Nasij Wahdih (orang yang menenun sendiri di pakaiannya).
Umar bin Khattab mengatakan pernah mengangkatnya sebagai gubernur Himsh. Ia berusaha menolak, tetapi Umar tidak membiarkannya pada pendiriannya. Saat memerintah wilayah Himsh, ia tidak pernah mengirimkan sisi pendapatan pajak ke Madinah, karenanya Umar memanggilnya. Umair pun menemui Umar dengan berjalan sambil membawa kantong berisi korma dan mangkok besar berisi air minum. Setelah bertemu, ia mengatakan kepada Umar "suatu keharusan bagi saya untuk memungut pajak dari rakyat yang saya pmpin dan bertanggung jawab untuk mendistribusikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Dari hasil pungutan pajak tersebut tidak ada yang tersisa untuk dikirim ke Madinah. Uamr bermaksud untuk menunjuknya kembali menjadi gubernur Himsh, tapi Umair menolak dan menjawab,"semuanya sudah berlalu, aku tidak akan bertugas untukmu lagi dan untuk seorangpun sesudahmu." Tidak lama setelah itu, Umar bin Al-Khattab menghembuskan nafas terakhirnya.
Umar bin Khattab pernah mengatakan,"Aku merindukan punya pembantu-pembantu seperti Umar bin Sa'id dan aku akan menugaskan mereka mengurusi urusan kaum muslimin. Ia meninggal tahun 45 H.
Sumber : Buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, Syeikh Muhammad Sa'id Mursi
Semoga Bermanfaat dan Salam Ukhuwah .. :)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar