Read more: http://www.caraseoblogger.com/2013/11/cara-menambahkan-animasi-burung-twitter.html#ixzz3TcMpkdU7 !-- SCM Music Player http://scmplayer.net --> expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Barakallah

Barakallah

Rabu, 13 Mei 2015

NAFISAH BINTI HASAN

Nama lengkapnya adalah Nafisah binti Hasan Bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Ia dilahirkan di Mekkah pada tahun 145 H dan merupakan anak dari seorang wali kota Madinah.Namun pada masa pemerintahannya anak dari seorang walikota diMadinah. Namun pada masa pemerinytahannya Ja'Far Al Mansur, ayahnya harus digeser dari kedudukannya sebagai wali kota, Hartanya dirampas dan ia pun harus meringkuk di penjara. Namun pada masa pemerintahan Al Mahdi, jabatan dan seluruh harta bendanya yang pernah yang pernah dirampas oleh Jafar Al Mahsur dikembalilkan kembalikan kembali.
Ia pernah pergi ke Baghdad untuk menjengguk ayahnya disaat maih dalam penjara, ia telah menghafal Alquran semenjak kecil, dan sekaligus juga ikut mempelajari ilmu tafsir. Ia juga merupakan salah satu dari perawi Hadits. Maka tidaklah mengherankan lagi jika Imam Syafi'i sendiri juga pernah meriwayatkan Hadits dari Nafisah. Dan tak hanya itu saja, imam Ahmad bin Hambal pun pernah meminta do'a kepada Nafisah.
Ia menikah dengan anak pamannya yang bernama Al-Mu'tamin Ishaq bin Ja'far dan dikaruniai dua orang anak yang diberi nama dengan Qasim dan Ummu Kultsum. Ia disaat melakukan ibadah haji, pernah memegang kain penutup Ka'bah seraya berkata "ya Tuhanku,ya Tuanku, ya Majikanku, senangkanlah aku dengan keridhoan-Mu kepadaku." Ia pada masanya, dikenal sebagai wanita yang mempunyai do'a sangat mujarab.
Bibinya pernah memintanya untuk mau memperhatikan dan menyayangi dirinya sendiri. Namun Rabi'ah malah menjawab "ya bibiku, barang siapa yang senantiasa berada dijalan Tuhan secara terus-menerus, maka alam semesta ini akan berada ditangan dan kehendaknya pula."
Ia tak pernah memakan makanan selain dari harta suaminya sendiri,lantaran rasa malu dan kehati-hatiannya memakan makanan yang tak jelas halal dan haramnya. Ia pernah berkunjung ke Mesir dan disambut dengan riang gembira oleh masyarakat setempat. Sehingga disaat Imam Syafi'i meninggal dunia, ia sangat berduka sekali, dan meminta agar jenazah imam syafi'i disinggahkan dalam rumahnya agar ia bisa menshalati Imam Syafi'i dan sekaligus mendo'akannya.
Penduduk Mesir pernah mengadukan kedzaliman bani Thalun kepada Nafisah. Ia lantas menyikapi pengaduan  itu dengan cara menempelkan sepucuk surat di seberang jalan. Ia mengatakan dalam surat itu "Engkau semua yang telah menjadikannya raja, namun engkau semuanya pula telah diperbudaknya. Engkau semua yang telah memberikannya kekuatan, namun engkau semuanya pula yang malah ditindasnya. Engkau semua yang telah memberikannya sebuah pemerintahan, namun engkau semua yang menyesal atas pemberian itu. Dulunya kalian semua dalam keadaan makmur, namun karenanya lah kemakmuran itu pergi. Maka ketahuilah kalian semua, berdo'a dimalam hari demi sebuah kemaslahatan pasti terkabulkan. Apalagi do'a itu berasal dari hati-hati yang merasa kecewa, orang-orang yang sedang dilanda kelaparan, dan orang-orang yang sudah sangat susah sekali mendapatkan pakaian yang layak. Dan ketahuilah kalian semua, sangat mustahil sekali jika seorang dzalim masih bisa hidup disaat orang yang dizhalimi telah meninggal dunia. Dan ketahuilah (wahai pemerintah) bahwa kejahatan-kejahatan kalian selama ini, kami sikapi dengan penuh kesabaran. Berlakulah jahat terus, sehingga kita akan terus menjadi orang-orang yang teraniaya. Dan bertindaklah dzalim terus, dan kita disini akan menjadi orang-orang terdzhalimi. Dan ketahuilah bahwasanya orang-orang yang senantiasa berlaku dzhalim suatu saat pasti akan jatuh."Membaca tulisan nafisah itu, bani Thalun merasa gemetaran dan takut, sehingga ia bersedia menjalankan  sebuah pemerintahan yang adil dan bijaksana.
Pada akhirnya, ia merasa berada ditengah-tengah masyarakat akan mengganggu konsentrasinya dalam melakukan ibadah. Ia mulai memantapkan hati untuk meninggalkan Mesir dan kembali menuju Madinah. Namun, ,masyarakat setempat tidak ingin berpisah dengannya. Maka walikota  berusaha mencarikan jalan tengah antara keinginan masyarakat setempat dengan keinginan suci Nafisah. Oleh karena itu walikota mendirikan sebuah rumah untuk Nafisah yang berada jauh dari keramaian manusia, dan menjadwal hari berkunjung masyarakat kepada Nafisah, yaitu tiap hari sabtu dan rabu saja.
Ia menggali kuburan di dalam rumahnya sendiri di saat ia mulai merasa sakit.Ia senantiasa melakukan shalat dan mampu mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 190 kali didalam kuburanya itu. Ia pernah diundang dalam sebuah jamuan, dan ditawari sebuah makanan kepadanya. Namun ia dalam keadaan puasa. Ia berkata kepada orang-orang tersebut," sangat mengherankan sekali, selama 30 tahun lamanya aku meminta kepada Allah agar bisa menemui-Nya sedang aku dalam keadaan berpuasa. Apakah aku harus berbuka sekarang? Ini semua tidak akan pernah ada selamanya."
Ia meninggal dunia di saat membaca Al-Qur'an surah Al-An'am. Tepatnya pada ayat" Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah pelindung mereka disebabkan amal-amal shaleh mereka yang selalu mereka kerjakan", (Al-An'am: 127). Setelah membaca ayat itu, ia lantas tertidur dan kemudian meninggal dunia. Ini terjadi tahun 207 Hijriah. Ia dimakamkan di Mesir, tepatnya di kota Kairo.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar