Ini tampak sekali di saat ia mendengar seorang laki-laki membaca ayat-ayat al Qur'an yang berhubugan dengan Neraka dihadapannya,ia langsung berteriak dan tersungkur karena rasa ketakutannya terhadap api neraka.Ia senantiasa melakukan shalat malam secara penuh.Ketika fajar mulai menjelang,ia tidur sebentar di tempat shalatnya hingga pagi tiba.
Pada suatu waktu,datan seoran laki-laki memberikan uang sebanyak 40 dinar kepadanya Ia berkata kepada Rabiah "gunakanlah uang ini untuk membantu keperluan-keperluanmu ."mendengar perkataan itu,Rabiah Adawiyah menangis.Ia menengadahkan mukanya ke langit,seraya berkata "Tuhan telah mengetahui,bahwa aku malu meminta barang-barang duniawi kepadan-Nya, padahal Ia lah yang memiliki dunia ini.oleh karena itu,bagaimana mungin aku akan meminta kepada orang yang sebenarnya tak memiliki duniawi itu?
Air matanya selalu bercucuran di saat mengigat hari kematian.Ia laksana disambar petir di saat teteringan hari kematian itu.Bahkan ia selalu merasa kaget dan merasa ketakutan sekali di saat terjaga dari tidurnya. Ia seraya berkata"wahai jiwaku!, berapa lama engkau tertidur dan berapa lama pula engkau dalam keadaan terjaga?. Aku benar-benar merasa ketakutan di saat engkau (jiwa) tertidur dan tak bangu lagi, sehingga yang ada dihadapanmu hanyalah hari kebangkitan."
Salah satu dari kata bijaknya adalah: " sembuyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau selalu menyembunyikan kejelekanmu." Ia berkata: " wahai Tuhanku, ampunilah penyelewenganku selama ini, ampunilah aku!. Ia meninggal dunia di Baitul Muqdis pada tahun 135 Hijriah dengan umur 80 tahun. Ia dikafankan di dalam jubahnya sendiri yang berasal dari anyaman rambut, dan tutup dari kain bulu yang senantiasa ia gunakan pada saat shalat malam. Ini semua adalah karena wasiat yang ia berikan kepada pembantunya agar ia dikafankan semacam itu. Ia juga berwasiat agar ia dimakamkan di Baitul Maqdis.
Tidaklah benar sekali jika perkataan "aku tidak menyembahmu lantaran mengharap surga-Mu dan takut atas neraka-Mu, melainkan hanya karena kecintaanku kepada-Mu", berasal dari perkataan Rabi'ah Adawiyah. Dan sangat tidak benar sekali pula, jika tasawuf Rabi'ah Adawiyah identik dengan nilai-nilai yang dianggap sesat dalam dunia sufi. Semisal, kerinduan terhadap Tuhan, Fana' (peleburan diri seorang hamba dengan Tuhannya), persaksian labgsung terhadap Tuhan, dan lain sebagainya.
Sumber : Buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, Syeikh Muhammad Sa'id Mursi
Tidak ada komentar :
Posting Komentar